Makalah Tentang macam-macam tarekat

                               BAB I                               
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG
Tarekat merupakan bagian dari ilmu tasawuf. Tapi, tidak semua orang yang mempelajari tasawuf paham dengan tarekat. Banyak orang yang memandang tarekat sebagai ajaran di luar ajaran Islam. Padahal tarekat merupakan pelaksanaan dari peraturan-peraturan syari’at Islam yang sah. Namun, perlu adanya kehati-hatian untuk untuk memahami tarekat, karena ada banyak tarekat yang dikembangkan dengan ajaran-ajaran yang menyeleweng dari ajaran Islam.



  1. RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Tarekat?
2.      Bagaimana sejarah timbulnya Tarekat?
3.      Bagaimana sejarah Sejarah perkembangan tarekat?
4.      Apakah pengaruh Tarekat di dunia Islam?
5.      Apa saja macam-macam tarekat secara umum?

  1. TUJUAN MASALAH
1.      Untuk mengetahui maksud dari Tarekat,
2.      Untuk mengetahui Sejarah Timbulnya Tarekat,
3.      Untuk mengetahui Sejarah Perkembaangan Tarekat,
4.      Untuk mengetahui Pengaruh Tarekat Di Dunia Islam,
5.      Untuk mengetahui macam-macam tarekat.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN TAREKAT

Secara etimologi, kata tarekat adalah berasal dari bahasa Arab Thariqah (yang bentuk jama’nya menjadi thuruq atau thara’iq) yang berarti jalan ataau metode atau aliran (madzhab). Secara terminologi, tarekat adalah jalan untuk mendekatkaan diri kepaada Allah SWT dengan tujuan untuk sampai (wushul) kepada-Nya.[1] Sedangkan menurut istilah tasawuf, tarekat berati perjalanan seorang salik (pengikaat tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri; atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seeorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan.[2] Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh oleh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau Mursyid (Guru Tarekat) masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Abu Bakar Aceh memberikan pengertian, bahwa tarekat adalah:

“Jalan, petunjuk dalam melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun-temurun sampai kepada guru-guru, sambung-menyambung dan rantai-berantai; atau suatu cara mengajar atau mendidik, lama kelamaan meluas menjadi kumpulan kekeluargaan yang mengikat penganut-penganut sufi yang sepaham dan sealiran, guna memudahkan menerima ajaran-ajaran dan latihan-latihan dari para pemimpinnya dalam satu ikatan.”

Dengan demikian, selamanya tarekat harus mengacu pada tuntunan Nabi, para sahabat dann tabi’in. Dengan kata lain, tarekat harus dilaksanakan di atas bangunan syari’at; dan di antara unsur utama yang biasa berlaku dalam dunia tarekat adalah adanya seorang syaikh yang mempunyai tugas membimbing muridnya. Mereka harus memenuhi kriteria, yakni harus menguasai ilmu syari’at, menjauhi yang haram, zuhud dalam hidup di dunia, dan qana’ah. Unsur tarekat selanjutnya adalah murid, yang
berarti orang yang berkehendak untk menempuh jalan tasawuf di bawah bimbingan seorang syaikh dengan ketaatan penuh. Unsur penting lainnya adalah bai’at (janji setia) antara murid daan syaikhnya, yaitu merupakan salah satu tali pengikat agar dapat istiqamah (kosnsisten) dalam menempuh jalan menuju Allah SWT. Selain itu, ada juga tata pengamalannya, yaitu wirid, atau dzikir, ratib, muzikk, menari, bernapas, dan sebagainya. Hal tersebut harus mengacu pada ketentuan syari’at. Abu Bakar Aceh memberikan penjelasan bahwa syari’at merupakan peraturan, tarekat merupakan pelaksanaan, hakekat merupakan keadaan, dan ma’rifat merupaka tujuan akhir dari perjalan mistis seorang salik.
Dalam wacana teoritik, pemisahan Max Weber antara mistisisme dan asketisisme tidak berlaku bagi tasawuf atau tarekat, karena dalam pandangan tarekat, asketisisme merupakan salah satu tahapan dari kehidupan sufi atau tarekat. Tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang sufi untuk mencapai kesempurnaan hidupnya adalah: taubat, wara’, zuhd, faqr, sabr, tawakal, dan rida. Menurut kaum tarekat, dalam ajaran Islam tidak ada pemisahan antara yang duniawi dan ukhrawi. [3]
Tarekat merupakan fenomena keagamaan yang menarik antara lain karena kesanggupannya menjaga kelangsungan ajarannya dari waktu ke waktu, dari situasi ke situasi yang lain. Bahkan peran tarekat atau sufisme
sangat besar dalam penyebaran Islam di Indonesia. Tarekat atau tasawuf sebagai salah satu perwujudan ajaran islam, mengandung simbol-simbol dan cara-cara bersikap yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang merasakannya.




B.     SEJARAH TIMBULNYA TAREKAT
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan mana tarekat yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga sulit diketahui secara pasti. Menurut Asy-Syibi dalam buku Anwar (2008: 207) mengungkapkan tokoh yang pertama kali memperkenalkan sistem tarekat adalah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Baghdad, Sayyid Ahmad Ar-Riffa’iyyah, dan Jalal Ad-Din Ar-Rumi di Parsi. Tarekat pada awal kemunculannya memang dibawa oleh ketiga tokoh tersebut, menurut teori lain tentang sejarah kemunculan tarekat yang dikemukakan oleh John O Voll dalam buku Anwar (2008: 208) adalah:
Ia menjelaskan bahwa penjelasan mistis terhadap Islam muncul sejak awal sejarah Islam, dan para sufi yang mengembangkan jalan-jalan spiritual personal mereka dengan melibatkaan praaktik-praktik ibadah, pembacaan kitab suci, dan kepustaakaan tentang kesaalehan. Para sufi ini terkadang terlibat dalam konflik dengan otoritas-otoritas dalam komuitas Islam, namun secara bertahap mampu menjadi figur yang baik bagi kehidupan agama.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa tarekat-tarekat sejak bermunculan pada abad ke-12 (abad ke-6 H), mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sejak abad 1317 H, dunia Islam dipengaruhi oleh tarekat. Tarekat-tarekat memegang eksistensi dan ketahanan umat Islam, setelah dilabrak mengerikan oleh tentara Tartar (kota Baghdad dimusnahkan tentara Tartar pada 1258/656 H).[4]
Sedangkan menurut Harun Nasution menyatakan bahwa setelah Al-Ghazali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dianggap sesat, tasawuf berkembang melalui tarekat. Tarekat memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut (ribat) atau disebut Jawiyah, Hangkah, atau Pekir. Organisasi ini muncul pada abad XII M. Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu Khurasan (Irak) dan Mesopotamia (Irak).[5] Pada periode ini, mulai muncul beberapa tarekat, di antaranya:
1.      Tarekat Yasariyah, yang didirikan oleh Ahmad Al-Yasari.
2.      Tarekat Naqsabandiyah, yang oleh Muhammad Baharuddin An-n=Naqsabandi Al-Awisi.
3.      Tarekat Khalwaatiyah, yang didirikan oleh Umar Al-Khalwati.
4.      Tarekat Safawiyah, yang didirikan oleh Safiyudin Al-Ardabili.

Di daerah Mesopotamia terdapat tarekat yang muncul padaa periode ini dan cukup terkenal, tetapi tidak termasuk rumpun Al-Junaid. Tarekat-tarekat tersebut, yaitu:
1)      Tarekat Qaadariyah, yang didirikan oleh Muhy Ad-Din abd Al-Qadr Al-Jailani.
2)      Tarekat Syadziliyah, yang dinisbaatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili.
3)      Tarekat Rifa’iyah, yang didirikan oleh Ahmad bin Ali Ar-Rifa’i.

Karena banyaknya cabang-cabang tarekat yang timbul, sulit untuk menelusuri sejarah perkembangan itu secara sistematis dan konseptional. Menurut Harun Nasution, cabang-cabang itu muncul akibat tersebarnya suatu alumni tarekat yang mendapat iajzah tarekat dari gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu yang diperolehnya.[6] Alumni tersebut meninggalkan ribat gurunya dan membuka ribat baru di daerah lain. Hal tersebut dilakukan secara terus-menerus sampai berkembang ke berbagai daerah Islam. Para tokoh sufi yang menjelaskan bahwa dalam menempuh jalan menuju Allah ‘Azza wajalla, mereka mengandalkan Al-Qur’an Al-Karim. Jalan ini telah dilakukan oleh orang-orang sufi dan telah nyata hasilnya. Prinsip jalan sufi ini dinamakan Al-Maqaamaat wal Ahwaal (kedudukan dan keadaan).







C.    SEJARAH PERKEMBANGAN TAREKAT
Pada awalnya, tarekat itu merupakan bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu. Misalnya, Rasulullah mengajarkan wirid atau zikir yang perlu diamalkan oeh Ali ibn Abi Thalib. Ajaran tersebut disampaaikan Rasulullah sesuai dengan kebutuhan penerimanya, terutama berkaitan dengan faktor psikologis.
Pada abad pertama Hijriyah mulai ada perbincangan tentang teologi, dilanjutkan mulai ada formulasi syariah. Abad kedua Hijriyah mulai muncul tasawuf. Tasawuf terus berkembang dan meluas dan mulai terkena pengaruh luar. Pengaruh luar tersebut yaitu filsafat.
Sejarah perkembangan tarekat menjadi pengawal moral banyak orang yang salah paham tentang tarekat, sehingga mereka tidak mau mengikutinya. Namun, mereka yang sudah mengikuti tarekatpun umumnya belum memahami bagaimana sebenarnya pengertian tarekat, awal mula dan sejarahnya, macam-macamnya serta manfaatnya. Asal-usul tarekat sufi dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). Pada waktu itu, tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut. Pada masa itu, ilmu tasawuf sering pula disamakan dengan ilmu tarekat dan teori tentang maqam (peringkat kerohanian) dan hal (jamaknya ahwal, keadaan rohani).[7] Diantara maqam penting yang ingin dicapai oleh seorang penempuh jalan tasawuf ialah mahabba atau ‘isyq (cinta), fana’ (hapusnya diri/nafs yang rendah), baqa’ (rasa hidup kekal dalam Yang Satu), ma’rifa (makrifat), dan ittihad (persatuan mistikal) serta kasyf (tersingkapnya penglihatan hati).
Munculnya tarekat membuat tasawuf berbeda dari gerakan zuhud yang merupakan cikal bakal tasawuf. Apabilagerakan zuhud mengutamakan ‘penyelamatan diri’ melalui cara menjauhkan diri dari kehidupan serba duniawi dan memperbanyak ibadah serta amal shaleh, maka tasawuf sebagai organisasi persaudaraan (tariqh) menekankan pada ‘keselamatan bersama’. Diantaranya dalam bentuk keselamatan bersama yang disebut ithaar.




D.    PENGARUH TAREKAT DI DUNIA ISLAM
Dalam perkembangannya, tarekat-tarekat bukan hanya memusatkan perhatian pada tasawuf ajaran-ajaran gurunya, melainkan mengikuti kegiatan politik. Tarekat memengaruhi dunia Islam mulai dari abad ke-13. Kedudukannya saat itu sama dengan parpol (partai politik). Bahkan, tentara pun menjadi anggota dari tarekat. Jadi, tarekat tidak hanya bergerak di bidang agama, tetapi juga bergerak dalam persoalan dunia yang mereka pikirkan.[8] Tarekat-tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasinya ke seluruh pelosok negeri; menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik; dan memberikan otonomi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelompok desa memiliki wali lokal yang didukung dan dimuliakan sepanjang hidupnya, bahkan setelah kematiannya. Akan tetapi, pada saat itu terjadi penyelewengan di dalam tarekat-tarekat. Penyelewengan ini antara lain terjadi dalam paham wasilah, yaitu paham yang menjelaskan bahwa permohonan seseorang tidak dapat dialamatkan langsung kepada Allah SWT, tetapi harus melalui guru, guru ke gurunya, demikian seterusnya sampai kepada syeikh, baru bisa bertemu dengan Allah atau berhubungan dengan Allah SWT. Paham inilah yang ditentang oleh Muhammad Abd Al-Waahhab di Arabia, karena paham ini membawa kepada kesyirikan.
Di samping itu, tarekat umumnya hanya berorientasi akhirat, bukan pada kehidupan duniawi. Tarekat menganjurkan banyak beribadah dan jangan mengikuti dunia karena, “Dunia ini adalah bangkai, yang mengejar dunia adalah anjing,” Ajaran ini tampaknya menyelewengkan umat Islam dari jalan yang harus ditempuhnya. Demikian juga sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan datang. Para pembaharu dalam dunia Islam melihat bahwa tarekat bukan hanya mencemarkan paham tauhid, melainkan membawa kemunduran bagi umat Islam. Seorang otoritas besar Perancis mengenai sufisme abad pertengahan, mengumumkan bahwa tarekat dalam keadaan runtuh sepenuhnya dan menghadapi permusuhan dan peghinaan oleh kaum elit dari dunia muslim modern.[9] Hal ini mencerminkan ketegangan sejarah yang panjang antara kaum elit muslim intelektual perkotaan dan tarekat. Secara khusus ada keyakinan modern bahwa pengalaman religius yang bersifat mistis tidak bersesuaian dengan modernitas. Tarekat-tarekat mapan tampak tidak efektif dalam menjawab tantangan tertentu modernitas, namun struktur-struktur dasar atau pendekatan umum masih menyediakan model bagi gerakan revivals dan reformis islam baru. Banyak para pengamat berpikir, bahwa begitu masyarakat menjadi lebih modern dan terindustrialisasi, fungsi-fungsi sosial guru sufi dan organisasi mereka akan menurun. Akan tetapi, akhir-akhir ini perhatian terhadap tasawuf timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materalisme. Orang-orang Barat melihat bahwa materalisme memerlukan sesuatu yang bersifat rohani, yang bersifat immateri sehingga banyak orang yang kembali memerhatikan tasawuf.[10] Oleh karena itu, tarekat dalam dunia Islam sangat berpengaruh besar, dimana tarekat ini tidak hanya mementingkan urusan akhirat saja, melainkan juga mementingkat urusan duniawi.

E.     Macam-Macam Thoriqoh dan Ajarannya
Secara umum Thoriqoh terbagi menjadi beberapa cabang:
1.Thoriqoh Naqsabandiyah
Pendiri Thoriqoh Naqsabandiyah ialah Muhammad bin Baha’uddin Al-Huwaisi Al Bukhari (717-791 H). Ulama sufi yang lahir di desa Hinduwan – kemudian terkenal dengan Arifan. Pendiri Thorikoh Naqsabandiyah ini juga dikenal dengan nama Naksyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib. Kata ‘Uwais’ ada pada namanya, karena ia ada hubungan nenek dengan Uwais Al-Qarni, lalu mendapat pendidikan kerohanian dari wali besar Abdul Khalik Al-Khujdawani yang juga murid Uwais dan menimba ilmu Tasawuf kepada ulama yang ternama kala itu, Muhammad Baba Al-Sammasi.
Thoriqoh Naqsabandiyah mengajarkan zikir-zikir yang sangat sederhana, namun lebih mengutamakan zikir dalam hati daripada zikir dengan lisan.
Pokok-pokok ajaran Thoriqoh Naqsabandiyah:
• Berpegang teguh dengan akidah ahli Sunnah
• Meninggalkan Rukhshah
• Memilih hukum yang azimah
• Senantiasa dalam muraqabah
• Tetap berhadapan dengan Tuhan
• Senantiasa berpaling dari kemegahan dunia.
• Menghasilkan makalah hudur (kemampuan menghadirkan Tuhan dalam hati)
• Menyendiri di tengah-tengah ramai serta menghiasi diri dengan hal-hal yang memberi faedah
• Berpakaian dengan pakaian orang mukmin biasa.
• Zikir tanpa suara
• Mengatur nafas tanpa lali dari Allah
• Berakhlak dengan akhlak Nabi Muhammad SAW

Syarat-syarat untuk menjadi pengikutnya :
a. I’tiqad yang benar
b. Menjalankan sunnah Rasulullah
c. Menjauhkan diri dari nafsu dan sifat-sifat yang tercela
d. Taubat yang benar
e. Menolak kezaliman
f. Menunaikan segala hak orang
g. Mengerjakan amal dengan syariat yang benar

2. Thoriqoh Qadariyah
Pendiri Tarekat Qadiriyah adalah Syeikh Abduk Qadir Jailani, seorang ulama yang zahid, pengikut mazhab Hambali. Ia mempunyai sebuah sekolah untuk melakukan suluk dan latihan-latihan kesufian di Baghdad. Pengembangan dan penyebaran Tarekat ini didukung oleh anak-anaknya antara lain Ibrahim dan Abdul Salam. Thoriqoh Qodariyah berpengaruh luas di dunia timur. Pengaruh pendirinya ini sangat banyak meresap di hati masyarakat yang dituturkan lewat bacaan manaqib. Tujuan dari bacaan manaqib adalah untuk mendapatkan barkah, karena abdul Qadir jailani terkwenal dengan keramatnya.
Dasar pokok ajaran Thariqoh Qadariyah yaitu:
• Tinggi cita-cita
• Menjaga kehormatan
• Baik pelayanan
• Kuat pendirian
• Membesarkan nikmat Tuhan

3. Thoriqoh Sadziliyah
Pendiri Tarekat Sadziliyah adalah Abdul Hasan Ali Asy-Syazili, seorang ulama dan sufi besar. Menurut silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Ia dilahirkan pada 573 H di suatu desa kecil di kawasan Maghribi. Ali Syazili terkenal sangat saleh dan alim, tutur katanya enak didengar dan mengandung kedalaman makna. Bahkan bentuk tubuh dan wajahnya, menurut orang-orang yang mengenalnya, konon mencerminkan keimanan dan keikhlasan. Sifat-sifat salehnya telah tampak sejak ia masih kecil.
Pokok ajaran Thoriqoh Sadziliyah yaitu:
• Bertaqwa kepada Allah ditempat sunyi dan ramai
• Mengikutu sunnah dalam segala perbuatan dan perkataan
• Berpaling hati dari makhluk waktu berhadapan dan membelakang
• Ridho dengan pemberian Allah sedikit atau banyak
• Kembali kepada Allah baik senang maupun sedih.
Tarekat Syaziliyah merupakan Tarekat yang paling mudah pengamalannya. Dengan kata lain tidak membebani syarat-syarat yang berat kepada Syeikh Tarekat. Kepada mereka diharuskan:
a. Meninggalkan segala perbuatan maksiat.
b. Memelihara segala ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan lain-lain.
c. Menunaikan ibadah-ibadah sunnah semampunya.
d. Zikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin atau minimal seribu kali dalam sehari semalam dan beristighfar sebanyak seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.
e. Membaca shalawat minimal seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.
4. Tarikat Rifaiyah

Pendirinya Tarikat Rifaiyah adalah Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah pada tahun 500 H (1106 M), sedangkan sumber lain mengatakan ia lahir pada tahun 512 H (1118 M). Sewaktu Ahmad berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur Al-Batha’ihi, seorang syeikh Trarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya tersebut ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu Al-Fadl Ali Al Wasiti, terutama tentang Mazhab Fiqh Imam Syafi’i. Dalam usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan khirqah 9 sebagai pertanda sudah mendapat wewenang untuk mengajar.
Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.

5. Tarikat Khalawatiyah
Tarikat Khalawatiyah ialah suatu cabang dari tarikat Suhrawadiyah yang didirikan di Bagdad oleh Abdul Qadir Suhrawardi dan Umar Suhrawardi, yang tiap kali menamakan dirinya golongan Siddiqiyah, karena mereka menganggap dirinya berasal dari keturunan Khalifah Abu Bakar. Bidang usahanya yang terbesar terdapat di Afghanistan dan India. Memang keluarga Suhrawardi ini termasuk keluarga Sufi yang ternama. Abdul Futuh Suhrawardi terkenal dengan nama Syeikh Maqtul atau seorang tokoh sufi yang oelh kawan-kawannya diberi gelar ulama, dilahirkan di Zinjan, dekat Irak pada tahun 549 H.
Suhrawardi yang lain bernama Abu Hafas Umar Suhrawardi, juga seorang tokoh sufi terbesar di Bagdad, pengarang kitab “Awariful Ma’arif”, sebuah karangan yang sangat mengagumkan dan sangat menarik perhatian Imam Ghazali, sehingga seluruh kitab itu di muat pada akhir karya “Ihya Ulumuddin” yang oleh tarikat Suhrawardiyah serta cabang-cabangnya dijadikan pokok pegangan dalam suluknya, dan Suhrawardani ini meninggal pada tahun 638 H .

6. Tarikat Khalidiyah

Cabang Naqsabandiyah di Turkestan mengaku berasal dari tarekat Thaifuriyah dan cabang-cabang yang lain terdapat di Cina, Kazan, Turki, India, dan Jawa. Disebutkan dalam sejarah, bahwa tarekat itu didirikan oleh Bahauddin 1334 M. Dalam pada itu ada suatu cabang Naqsabandiyah di Turki, yang berdiri dalam abad ke XIX, bernama Khalidiyah.
Menurut sebuah kitab dari Baharmawi Umar, dikatakan, bahwa pokok-pokok tarekat Khalidiyah Dhiya’iyah Majjiyah, diletakkan oleh Syeikh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi, yang lama bertempat tinggal di Mekkah. Kitab ini berisi silsilah dan beberapa pengertian yang digunakan dalam tarekat ini, setengahnya tertulis dalam bentuk sajak dan setengahnya tertulis dalam bentuk biasa. Dalam silsilah dapat dibaca, bahwa tawassul tarekat inidimulai dengan Dhiyauddin Khalid.

7. Tarikat Sammaniyah
Nama tarikat ini diambil daripada nama seorang guru tasawwuf yang masyhur, disebut Muhammad Samman, seorang guru terikat yang ternama di Madinah, pengajarannya banyak dikunjungi orang-orang Indonesia di antaranya berasal dari Aceh, dan oleh karena itu terikatnya itu banyak tersiar di Aceh, bisa disebut terekat sammaniyah. Ia meninggal di Madinah pada tahun 1720 M. Sejarah hidupnya dibukukan orang dengan nama Manaqib Tuan Syeikh Muhammad Samman, ditulis bersama kisah Mi’raj Nabi Muhammad, dalam huruf arab, disiarkan dan dibaca dalam kalangan yang sangat luas di Indonesia sebagai bacaan amalan dalam kalangan rakyat.

8. Tarikat Rifa’iyah

Tidak banyak kita mengetahui tentang tarekat ini, meskipun namanya terkenal di Indonesia karena tabuhan rebana, yang namanya di Aceh rapa’i, perkataan yang terambil dari Rifa’i, pendiri dan penyiar terekat ini, begitu juga dikenal orang Sumatera permainan debus, menikam diri dengan sepotong senjata tajam, yang diiringi zikir-zikir tertentu.
Akhmad ibn Ali Abul Abbas, yang dianggap pencipta daripada terekat Rifa’iyah itu. Ia meninggal di Umm Abidah pada 22 Jumadil Awal 578 H, sedang tanggal lahirnya diperselisihkan orang. Dalam kitab-kitab tua tulisan tangan, yang masih terdapat di sana sini di seluruh Indonesia, kita masih mendapati ajaran-ajaran Ahmad Rifa’i ini, meskipun gerakan ini tidak begitu kelihatan lagi hidup dalam masyarakat. Tarekat Rifa’iyah ini, yang mula-mula berdiri di Irak kemudian tersiar luas ke Basrah, sampai ke Damaskus dan Istanbul di Turki. Cabang-cabangnya yang terdapat di Syiria ialah Hariyah, Sa’diyah dan Sayyadiyah, dll. Terutama dalam abad yangke XIX Masehi. Cabang Sa’diyah di syiria didirikan oleh Sa’duddin Jibawi, yang bercabang pula, masing-masing didirikan oleh dan bernama Abdus Salamiyah dan Abdul wafaiyah.
9. Tarikat ‘Aidrusiyah
Salah satu daripada tarekat yang masyhur dalam kalangan Ba’alawi ialah Al’aidurusiyah, terutama dalam tasawuf aqidah. Hampir tiap-tiap buku tasawuf menyebut nama Al- aidrus sebagai salah seorang sufi yang ternama. Keluarga Al’Ahidus banyak sekali melahirkan tokoh-tokoh Sufi yang terkemuka, diantaranya, di antaranya S. Abdur Rahman Bin Mustafa Al’Aidus, yang pernah menjadi pembicaraan Al-Jabarti dalam sejarahnya. Al-Jabarti menerangkan, bahwa S.Abdur Rahman berlimpah-limpah ilmunya, ahli yang mempertemukan hakekat dan syariat sejak kecil ia telah menghafal Al’Quran 30 jus.

10. Tarikat Al-Haddad
Sayyid Abdullah bin Alwi Muhammad Al-Haddad dianggap salah seorang qutub dan arifin dalam ilmu Tasawuf. Banyak ia mengarang kitab-kitab mengenai ilmu tasawuf dalam segala bidang, dalam aqidah, tarekat, dsb. Bukan saja dalam ilmu tasawuf, tetapi juga dalam ilmu-ilmu yang lain banyak ia mengarang kitab. Kitabnya yang bernama : “Nasa’ihud Diniyah”, sampai sekarang merupakan kitab-kitab yang dianggap penting. Muraqabah termasuk wasiat Al-Haddad yang penting. Muraqabah artinya selalu diawasi Tuhan, dan orang yang sedang melakukan suluk hendaknya selalu Muraqabah dalam gerak dan diamnya, dalam segala masa dan zaman, dalam segala perbuatan dan kehendak, dalam keadaan aman dan bahaya, di kala lahir dan di kala tersembunyi, selalu menganggap dirinya berdampingan dengan Tuhan dan diawasi oleh Tuhan. Jika beribadah itu seakan-akan dilihat Tuhan, jika ia tidak melihat Tuhan pun, niscaya Tuhan dapat melihat dia dan memperhatikan segala amal ibadahnya. Ak-Hadad mengatakan bahwa Muraqabah itu termasuk maqam dan manzal, ia termasuk maqam ihsan yang selalu dipuji-puji oleh nabi Muhammad.

11. Tarikat Tijaniyah
Salah satu terekat yang terdapat di Indonesia di samping tarekat-tarekat yang lain ialah tarekat Tijaniyah. Dalam tahun beberapa rekat ini masuk ke Indonesia tidak diketahui orang-orang secara pasti, tetapi sejak tahun 1928 mulai terdengar adanya gerakan ini di Cirebon. Seorang Arab yang tinggal di Tasikmalaya, bernama Ali bin Abdullah At-Tayib Al-Azhari, berasal dari Madinah, menulis sebuah kitab yang berjudul “Kitab Munayatul Murid”
(Tasikmalaya, 1928 M), berisi beberapa petunujk mengenai hakikat ini, dan kitab itu terdapat tersebar luas di Cirebon khususnya, dan di Jawa barat umumnya.
Pendirinya seorang ulama dari Algeria, bernama Abdul Abbas bin Muhammad bin Mukhtar At-Tijani, lahir di ‘Ain Mahdi pada tahun 1150 H, (1737-1738 M). Diceritakan bahwa dari bapaknya ia keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib, sedang nama Tijani adalah dari Tijanah dari keluarga ibunya. Terekat ini mempunyai wirid yang sangat sederhana, dan wazifah yang sangat mudah.[11]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
        Tarekat adalah sebagai hasil pengalaman dari seorang sufi yang diikuti oleh para murid, yang dilakukan dengan aturan atau cara tertentu dan bertujuan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah Swt. Dalam perkembangannya tarekat itu kemudian digunakan sebagai nama sekelompok mereka yang menjadi pengikut bagi seorang syekh yang mempunyai pengalaman tertentu dalam cara mendekatkan diri kepada Allah dan cara memberikan tuntutan dan bimbingan pada muridnya. Dalam memberi nama suatu kelompok tarekat dengan suatu ajaran tertentu dalam mendekatkan diri pada Tuhan itu dan dalam caramemberikan latihan-latihan selalu dinisbahkan kepada nama seorang syekh yang dianggap mempunyai metodhe dan pengalaman yang khusus.
Di Indonesia terdapat beberapa tarekat yang telah tersebar ke beberapa daerah seperti: Naqsabandiyah, Qadiriyah, Samaniyah, Khalawatiyah, Khalidiyah, Al-Hadad, Rifaiyah, dan Aidrusiyah, dll.
B.     Saran
 Dalam penyusunan makalah ini maupun dalam penyajiannya kami sebagai manusia biasa menyadari adanya beberapa kesalahan oleh karena itu kami mengharapkan kritik maupun saran.
                        Diharapkan pembaca mencari sumber sumber lain yang dapat dipakai untuk rujukan tentang bab ini, karena kami sebagai tim penyusun makalah sangat terbatas dalam penyajian materi.
DAFTAR PUSTAKA
Zuhri, M. Saifuddin. Tarekat Syadziliyah. Jombang: Teras. 2011.

Ni’am, Syamsun. Wasiat Tarekat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2011.

Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia. 2010.


http://kependidikanislam2010.blogspot.co.id/2011/06/macam-macam-thoriqoh-dan-ajarannya.html





[1] M. Saifuddin Zuhri, Tarekat Syadziliyah, (Jombang: Teras, 2011), hlm. 11.
[2] Syamsun Ni’am, Wasiat Tarekat, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 84.
[3] M. Saifuddin Zuhri, Tarekat Syadziliyah, (Jombang: Teras, 2011), hlm. 12.
[4] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 310.
[8] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 317.
[10] Ibid., hlm. 318.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Makalah Tentang macam-macam tarekat"

  1. Graton Casino, Las Vegas, NV - MapYRO
    GRATIT CASINO, LAS VEGAS. 10:00 AM 구리 출장샵 - 9:00 PM. 경기도 출장마사지 LOCATION. 보령 출장마사지 GRATIT CASINO, 3131 부천 출장안마 S Las Vegas Blvd. S. 89109. (702) 746-3755. View Directions. LOCATION. GRATIT CASINO, 3131 S. 공주 출장샵 89109.

    BalasHapus